Padang : Pantai Air Manis, Teluk Bayur dan Saya

Sebelumnya…

Singkat cerita, setelah puas nonton balapan kuda saya balik ke Padang naik traneks. Perjalanannya kurang lebih hampir 3 jam. Traneksnya berhenti terakhir di suatu tempat. Entah dimana. Saya kurang excited sebenarnya dengan Padang. Palingan kota tipe pesisir seperti Makassar. Ramai dan panas.

Beberapa ojek menawarkan jasa nganterin saya. Setelah tawar menawar sebentar kami sepakat sampai jalan Ahmad Yani dengan ongkos Rp15.000. Uniknya begitu sampai di tempat yang saya maksud saya kasih Rp20.000 dan karena bapak ojek ga punya kembalian, saya minta ambil aja kembaliannya. Si bapaknya ga mau. Saya tertegun dan bersyukur. Hemat wakakaka.

Seperti halnya di Batusangkar, mencari penginapan murah di Padang merupakan hal yang agak sulit disini. Saya hanya nemu Wisma Bakti di dekat Mcd Ahmad Yani. Saya dapat kamar yang paling murah Rp200.000. Harga segitu sudah paling murah. Yang agak aneh, kamarnya dapat fasilitas AC yang displit dengan kamar sebelahnya dan remotnya ga dikasih. Pak Padang kan panas pak!. Sialnya ketika saya istirahat sore, Padang malah mati listrik. Jadinya penginapan hanya pakai genset dan otomatis AC ga nyala.

Daripada kepanasan di penginapan, malam harinya saya keluar untuk makan malam sekaligus lihat-lihat suasana Padang saat malam. Dimana-mana gelap karena mati listrik  ditambah baterei hape sudah mau habis membuat saya sedikit waswas. Setelah jalan cukup jauh melewati pasar Raya, saya memutuskan makan malam di KFC Plaza Andalas karena sejauh saya mencari tempat makan ga ada yang menarik perhatian saya. Saat mau balik saya melihat ada Angkringan Jogja. Ah lumayan nih untuk sekedar lesehan. Ternyata hanya namanya saja yang akringan, dalamnya kayak restoran biasa. Sudah gitu saya nyoba pesan es tape ketan, eh ga enak sama sekali. Nyesel. Ga cocok banget nama dan konsep restonya.

***

Malam berlalu dan saya mulai jalan di hari terakhir trip saya kali ini. Karena menurut google maps pantai Padang dekat, jadi saya mulai dari obyek ini. Pantai Padang yang saya temui ya gitu saja. Pesisir dengan tatanan batu antar beberapa jarak pantai. Pantai ini pasirnya hitam dan lautnya juga cenderung gelap, entah karena sedang mendung, tertutup kabut asap atau karena lautan dalam. Di kemudian hari saya liat orang memposting foto pantai Padang tapi dengan view yang bagus, warna pasirnya putih dan lautnya biru. Jadi apakah pantai yang saya temui bukan pantai Padang?

Jpeg
Ada kapal tanker sedang berlabuh

Kaki melangkah lagi. Kali ini saya mampir ke museum Adiyawarman. Di sebelah museum ini Taman Budaya Padang tapi sayangnya siang itu ga ada event apa-apa jadi saya lewatkan begitu saja. Tiket masuk museum Adityawarman sangat murah, hanya Rp2.000 saja. Ketika saya datang, para pegawainya sangat sibuk bebersih setiap sudut museum. Ditambah ada orang seperti paspampres yang ngecek lokasi, saya curiga ada pejabat mau berkunjung kesini. Dua hari kemudian ketika saat saya liat IG, bu Ani lagi disana. Pantes mereka bebersihnya dengan semangat 45.

Jpeg

Kalau museumnya sendiri saya juga bingung isinya apa karena saya hanya sekilas lihat. Selain itu juga koleksinya kayaknya sedikit sekali. Seingat saya hanya kain kain Minangkabau. Kalau dari bentuk museumnya mirip dengan PDIKM Padang Panjang dan Istana Pagaruyung.

Setelah dari sana saya ke pantai Air Manis, lokasi batu Malin Kundang. Sebenarnya saya sempat baca di internet kalau batu ini hanya batu replika buatan pemda untuk menarik wisatawan. Tapi namanya sudah kepalang basah di Sumbar, ga afdol rasanya kalau ga kesana. Untuk kesana saya naik angkot sampai ke gerbang masuk ke pantai. Dari sini masih harus naik ojek karena hanya bisa dengan itu dengan ongkos Rp20.000. untuk sampai ke pantai saya mesti naik turun bukit naik ojek itu.

Pak ojek mengantar saya sampai ujung pantai, lokasi dimana batu Malin berada. Seorang pemuda meminta biaya masuk Rp5.000 tapi ga ada tiket yang diberikan ke saya. Kalau model gini bukannya pengawasan retribusi yang masuk ke pemda jadi lemah ya? Kan ga ada buktinya.

Pantainya sendiri mirip dengan pantai Parangtritis. Mungkin karena sama menghadap lautan Hindia jadi ya tipenya mirip.

Jpeg
Batu Malin Kundang

Pak ojek menjemput saya lagi. Saya minta diantarkan sekalian ke Teluk Bayur. Sampai disana eh pak ojek malah mengantar saya masuk ke pelabuhan. Dikiranya saya pegawai pelayaran. Saya minta diantar di spot paling bagus untuk melihat Teluk Bayur. Sayangnya, kabut asap lagi lagi mengganggu kepuasan saya menikmati jalan-jalan kali ini. Teluk Bayur pun kelihatan buram.

“selamat tinggal kasihku yang tercinta. Aku pergi jauh takkan lama. Kukan mencari ilmu di negeri seberang. Bekal hidup nanti di hari tua”

Teluk Bayur.

Sialnya dari spot untuk melihat Teluk Bayur itu ga ada angkot ke dekat pelabuhan (angkot paling jauh sampai di pelabuhan). Jadinya saya mesti jalan kaki untuk jarak sekitar 2 km.

Jpeg
Teluk Bayur

Untungnya ada ojek lewat, selamet deh kaki dari ngilu ngilu. Pak ojek yang kali ini ramah banget, dia banyak cerita tentang daerah situ dan juga tentang kondisi Padang yang berkabut. Tak terasa saya pun sampai di Jembatan Siti Nurbaya. Sekilas jembatan ini sama saja dengan jembatan pada umumnya. Saya pun hanya sambil lalu saja. Katanya sih ada kuburan Siti Nurbaya tapi saya malas kesana. Selain karena harus menanjak, beberapa tulisan mengatakan kuburan itu hanya mitos belaka. Apalagi punggung mulai terasa pegel bawa backpack.

Jpeg
View dari atas jembatan Siti Nurbaya

Panas siang itu membuat tenggorokan saya sedikit mengering. Insting haus membawa saya sampai di es Durian Ganti Nan Lamo. Rasanya? Lumayan worth it.

Untuk makan siang saya mencoba makan soto Padang Roda Tiga. Lumayan untuk menambah perbendaharaan pengetahuan saya tentang per-soto-an.

PhotoGrid_1447807534256
Soto Padang – es Ganti Nan Lamo – Jembatan Siti Nurbaya

Setelah itu saya beli oleh-oleh ke keripik Kristine Hakim dan ngojek ke pool Damri menuju bandara.

Sore itu Padang diguyur hujan. Alhamdulillah, semoga kabut asap segera berlalu dan Sumatera Barat kembali mempesona untuk dikunjungi. Tabuik.

***selesai***

“Pengumum! Yudisium ga jadi hari Kamis. Jadinya Jumat. Sekian”

Kampretos dominos.

Iklan

Satu pemikiran pada “Padang : Pantai Air Manis, Teluk Bayur dan Saya

  1. Ping-balik: Istana Pagaruyung dan Festival Balapan Kuda Batusangkar | ayopergi

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s