[Weekend Escape] Ngebolang ke Sukabumi

Untuk edisi weekend escape kali ini gw memilih Sukabumi dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, dulu mau ikut open ke Sukabumi trip batal karena kurang kuota.

Kedua, transportasi dari Jakarta ke Sukabumi mudah dan murah.

Ketiga, gw belum pernah kesana.

Keempat dan terakhir, lagi bosan dengan Jakarta.

Seperti yang gw katakan sebelumnya, transportasi ke Sukabumi mudah cukup dengan naik KRL ke Bogor dan nyambung dengan kereta Parangro menuju ke Sukabumi. Rencana awal sih gw mau sekalian ke situs gunung Padang. Namun karena keretanya ga bisa langsung, melainkan harus ganti kereta ke Cianjur, gw membatalkan rencana itu.

Intinya gw hanya mau tahu seperti apa sih kota kelahiran Desi Ratnasari itu.
Kereta Pangrango naiknya bukan dari stasiun Bogor melainkan lewat stasiun Bogor Paledang. Jadi kalau kita keluar dari stasiun Bogor, di seberang jalan akan kelihatan billboard KFC, nah stasiun Bogor Paledang ada di sebelahnya. Kita tinggal jalan masuk dari jalan sebelahnya sekitar 200 meter ke stasiun Bogor Paledang.

Rupanya banyak juga penumpang kereta Pangrango, waktu masih banyak calon penumpang yang tidak dapat tiket. Kebetulan gw belinya sudah 2 minggu sebelumnya lewat online. Untuk kursi bisa memilih mau yang eksekutif maupun ekonomi, harganya juga sama sama murah meriah.

Singkat kata singkat cerita gw pun sampai di sana. Agak sedikit terkejut melihat kondisi di depan stasiun. Baru kali ini gw melihat bagian depan suatu stasiun yang bukannya jalan raya malah pasar tradisional. Ditambah dengan kondisi jalan yang becek. Jalan keluar stasiun mengikuti keinginan sesukanya dan gw sampai di jalan raya.

Sudah lama tak jalan kaki membuat gw hanya ingin jalan entah kemana kaki ini melangkah. Sampai kemudian gw berhenti sejenak di masjid Raya Sukabumi. Setelah itu, kembali menyusuri jalanan, melihat sikon sepanjang jalan depan masjid sampai di hotel tempat gw menginap di hotel Taman Sari.

Rasa rasanya kota ini sepi dan sunyi, seperti Bandung dengan lebih sedikit orang. Sialnya siang itu turun hujan sepanjang siang sampai sore dan gw lupa membawa payung lebih tepatnya lupa masukin ke tas karena malam sebelumnya sudah gw siapkan. Arggggggg.

Rupanya tak jauh dari tempat gw menginap, ada resto Bubur Ayam Bunut. Gw kesana dan pengunjungnya ternyata hanya sedikit sore itu. Pesanan gw pun tak lama datang. Semangkuk bubur lengkap dengan toping dan juga cemilan kroket isi mie. Untuk minum gw hanya pesan teh manis. Total harga Rp63.000. Lumayan mahal sih untuk hanya bubur dan kroket yang menurut gw rasanya pun biasa saja. Bubur ayam yang biasa gw beli buat sarapan saja yang palingan ga lebih dari Rp15.000 malah lebih enak. Tapi ya namanya sudah terkenal ya gitu deh.

Kembali gw ke sekitaran jalan utama untuk lihat lihat kondisi ketika malam hari. Mall yang ada di situ hanya satu itupun ukurannya kecil dan penuh dengan pengunjung, gw urung mampir. Kemudian kepikiran mau nonton film, tapi rupanya tak ada bioskop disana. Mati gaya rupanya gw disana. Akhirnya gw balik ke hotel dan tidur karena kemudian hujan pula.

Hari berikutnya saya mau ke Sela Bintana. Dari hotel tinggal naik angkot warna merah sampai dengan pintu masuk Sela Bintana.

Begitu sampai disana lagi lagi kecewa. Gw kira Sela Bintana itu mirip Taman Bunga Nusantara tapi rupanya hanya kayak resort lapangan hijau. Jadi kayak spot untuk grup kantor ngadain acara di luar kantor gitu.

Jadinya gw pun tak lama disana. Niatnya sih mau nyobain mie Sukabumi di dekat BCA Kota Paris tapi rupanya hanya buka di malam hari. Saya pun langsung ke stasiun menunggu kereta balik ke Bogor

Iklan

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s