[Replay 2000an] Saya, Sekolah, dan Lomba

topi-sekolah-2
Sumber disini

Kalau ada hal yang paling saya suka saat masa-masa sekolah adalah lomba. Awalnya sih motivasi bukan tentang prestasi apalagi piagam penghargaan. Awalnya adalah masa itu di kelas 4 SD.

Pak Slamet, demikian nama guru agama saya waktu itu, memanggil saya ke ruangan guru, mengumpukan saya dengan beberapa murid dari beberapa kelas. Saya ga ngerti untuk apa sampai kemudian beliau menjelaskan bahwa kami diminta mewakili mengikuti lomba agama islam di kecamatan.

Saya bingung, meskipun sedari kelas 1 memang saya peringkat 1 ( sedikit nyombong) tapi saya masih awam dengan perihal lomba. Ngapain saya nanti disana? Apa guru ga salah memilih saya? Demikian sekian pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Ternyata lombanya dibagi 3 yaitu adzan, baca Alquran dan cerdas cermat nah saya dapat jatah ikut cerdas cermatnya.

Hari H pun tiba, guru membonceng kami per dua murid dengan motor masing-masing menuju kecamatan. Rasa-rasanya sampai kecamatan pun sudah sangat jauh waktu itu.

Tak banyak yang saya ingat dari lomba saat itu selain ingatan soal uang saku yang saya dapat. Yah waktu saya SD dua kakak kembar saya masih SMP, saya dan adek masih SD jadi waktu itu pengaturan uang saku oleh ibu rasanya sangat ketat. Terkadang bahkan saya tak jajan karena tak dapat uang saku. Kalau sudah begitu saya pulang ke rumah saat jam istirahat buat makan siang karena jarak sekolah ke rumah cuma selemparan batu.

Sejak itu, panggilan ikut lomba pun silih berganti dari pelajaran wajib sampai dengan pelajaran ga jelas sekalipun. Dari matematika, agama sampai senam pun saya ikutin. Saya sih fine fine saja karena toh saya bisa tahu banyak tempat dari mengikuti lomba lomba ini dan tentu dengan senang hati saya dapat uang saku plus hadiah kalau kebetulan menang.

Beranjak ke sekolah menengah, saya dan lomba seperti sudah jadi takdir. Saya senang karena saya tak perlu ngerepotin orang tua buat beli buku dan peralatan lain apalagi kemudian sekolah memberi saya beasiswa jadi untuk SPP pun saya sudah tak ambil pusing lagi.

Saking banyaknya lomba yang saya ikuti terkadang muncul hal-hal konyol yang saya temui. Pernah suatu waktu guru meminta saya mengikuti lomba matematika di kabupaten dan ketika sampai di sana pada hari H pamflet yang saya baca berkata lain.

“Selamat Datang Peserta Lomba Astronomi Tingkat SMP se-Kabupaten Magelang”

giphy

Saya melongok ke guru saya dan dia hanya tersenyum kecut. Rupanya ada miskomunikasi. Mungkin karena waktu itu belum ada sistem telekomunikasi seperti sekarang ini. Sudah sampai di lokasi peperangan rasanya tak mungkin saya mundur. Tetep saya ikuti lomba dan pada akhirnya masih lumayan, tak malu maluin banget masih di sekitar 10 besar.

Lomba lain pun datang. Bahasa Inggris, jujur saya ga jago jago amat di bidang ini tapi karena sudah menjadi amanah ya wajib dilaksanakan. Setahu saya, prosesnya pun tak akan jauh beda dengan pelajaran lain. Tinggal ngerjain dan diambil juara untuk lanjut ke propinsi. Saya ikuti lomba dengan semestinya sampai di saat hari H lomba akan dimulai panitia mengumumkan:

“Peserta yang lolos di 10 besar akan berlanjut ke round 2 untuk berpidato dalam bahasa Inggris”

Gubrak,alamakjang. Bagaimana pula ini guru saya bisa miskomunikasi lagi dan tak tahu kalau bakal ada round 2 untuk pidato. Jangankan pidato grammar saja masih salah-salah. Saya harap harap cemas jikalau sampai masuk 10 besar. Alhamdulillah saya ga lolos. Alhamdulillah saya masih dapat uang saku,

Nah kalau kekonyolan ketiga ini murni dari saya. Ceritanya ada lomba lagi saat saya kelas 3 SMP. Saya sih sebenarnya lebih prefer ikutan lomba matematika tetapi teman saya yang lain sudah lebih dulu memilih mata pelajaran itu. Teman saya itu cewek jadi saya harus mengalah. Alhasil saya ketiban mapel biologi.

Jujur saya lebih milih Geografi karena sedari kecil saya suka baca tentang Geografi tetapi rupanya lombanya bidang eksak jadi mau ga mau saya harus nerima. Saat teman lain pada bebas bermain, saya dipinjami buku sekitar 10 buku oleh guru biologi untuk dibaca. Saya mengutuk dalam hati karena menerima mapel ini. sampailah di hari lomba dan saya hanya berdoa satu hal:

“Ya Alloh, saya tidak ingin menjadi juara 1 karena malas harus belajar begini lagi buat ke propinsi jadi cukup juara 2 saja ya Alloh”

Seperti doa ini adalah doa paling mujarab yang pernah saya lakukan. Guru wakil sekolah datang ke rumah memberi tahu saya kalau saya mendapat juara 2. Tapi ada satu hal yang sepertinya tetap miskomunikasi karena ternyata 3 besar yang dikirim ke propinsi.

Saya hampir pingsan mendengar penjelasan beliau karena selisih juara 1 dan saya hanya 2 poin yang artinya hanya beda 1 soal. Saya bingung mau senang atau sedih. Apalagi dengan selisih 1 soal ternyata beda pula hadiahnya. Kesel.

Setelah masuk ke SMA tak banyak lomba yang saya ikuti selain karena intensitas lomba sedikit juga karena banyak teman saya yang lebih pintar daripada saya. Tak jadi masalah karena pada dasarnya saya memilih sekolah itu untuk menuju kampus saya dulu itu yang akhirnya kesampaian juga.

Begitulah beberapa puzzle kehidupan sekolah yang pernah saya alami. Masa masa yang kadang membuat saya kangen dengan sekolah dan teman-teman walau entah dimana dan bagimana mereka sekarang.

Salam

Iklan

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s