Masalah Abad 21: Anak Jawa yang Kesulitan Berbahasa Jawa

Saya ini ras Jawa murni. Meskipun terkadang banyak yang menebak saya agak-agak Chinese atau sedikit berbau Batak. Paling tidak itulah fakta yang saya runut dari silsilah keluarga saya.

sumber disini
sumber disini

Akan tetapi bukan soal fisik yang ingin bahas kali ini. saya ingin membahas tentang bahasa lebih khusus bahasa Jawa karena budaya takkan lengkap jika tidak ada unsur bahasa.

Sebagai orang Jawa tulen, sudah barang tentu saya tahu bahasa Jawa. Lebih tepatnya sekedar tahu. Sengaja saya tebalkan kata itu karena pada kenyataannya saya hanya tahu bahasa Jawa ngoko dan sedikit bahasa Kromo atau Krama (tingkatan bahasa Jawa paling halus, biasa digunakan untuk percakapan orang lebih muda ke yang lebih tua sebagai lambang penghormatan).

Sesulit-sulitnya kita mengikuti ujian TOEFL saya yakin masih lebih sulit bagi orang yang belajar bahasa “Jawa TOEFL”. Itulah salah satu alasan mengapa bahasa Jawa tidak menjadi bahasa nasional karena tingkat kesulitan dalam penggunaannya. *ini hanya alasan saya aja sih*

Contohnya begini. Dalam bahasa Indonesia kata “makan” hanya ada satu itu saja. Tidak ada kata sinonim (koreksi jika saya salah). Begitu pula dalam bahasa Inggris hanya ada kata “eat”. Lantas bagaimana dalam bahasa Jawa? Kata makan bisa diartikan ke bahasa Jawa dengan beberapa kata sebagai berikut :

Maem ; dahar; mbadog; madang; nedha; nguntal; mangan

Penggunaan tiap-tiap kata tergantung siapa subyeknya. Jika subyeknya misal orang yang dianggap “tidak terhormat” maka biasanya dalam percakapannya akan banyak menyebut kata “nguntal”. Nah kalau kalangan borjuis biasanya kata “dahar” atau “nedha” yang digunakan (ini tidak mutlak, bisa saja kaum proletar juga menggunakan untuk percakapan yang membutuhkan unggah-ungguh). Ini baru satu kata belum kata yang lain lagi.

Saking banyaknya kosakata bahasa Jawa terkadang ada kata yang kami (pengguna bahasa Jawa) mengerti artinya tetapi sulit mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Contoh keblasuk; kejengkang; cemlorot; makbedunduk…dan masih banyak lagi.

Nah perkara penggunaan bahasa Jawa yang mempunyai tingkatan tidaklah mutlak digunakan dimana. Lebih tepat siapa dengan siapa percakapan terjadi. Jika orang tua ke anak biasa cukup dengan ngoko. Sebaliknya, semestinya menggunakan bahasa Krama. Dalam praktiknya, orang tua semestinya berbahasa Krama untuk mengajari anaknya berbahasa Krama. Akan tetapi hal ini jarang saya temui (termasuk di lingkungan tempat tinggal saya). Yang terjadi adalah penggunaan bahasa Ngoko yang lebih egaliter. Menyatu dengan yang lain. Tidak ada sekat. *lagi lagi ini hanya alasan pembenar saya*

Saat saya lulus SMA beberapa teman saya memilih kuliah jurusan bahasa Jawa. Bukan karena mereka pecinta bahasa Jawa (koreksi kalau saya salah) akan tetapi karena minimnya pengajar bahasa Jawa sehingga harapannya kedepan lebih mudah mencari pekerjaaan.

Namanya juga era globalisasi. Era tanpa batas. Semakin banyak hal yang mengglobal salah satunya bahasa Inggris. Efeknya bahasa lokal mau tidak mau akan mulai tergeser. Ini nyata. Tanpa saya melakukan sensus pun, saya yakin dari teman-teman saya yang anak Jawa paling kurang dari 50% yang menguasai bahasa Jawa dengan fasih dan benar dalam pemilihan diksi yang tepat untuk suasana yang tepat.

Semoga hal itu salah. Semoga hanya saya saja yang kesulitan berbahasa Jawa dengan baik dan benar.

Matur nuwun.

Disclaimer : tulisan ini murni hanya dari sudut pandang saya yang bukan ahli bahasa apalagi tukang survey.

Iklan

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s