Jadi Donor Darah Itu Sebenarnya…

Kalau dengar kata “Donor darah” apa sih yang muncul di benakmu? Kalau buatku gambaran yang muncul adalah jarum, jarum dan jarum. Makanya dari jaman dulu masih sekolah, kuliah, kerja sampai kuliah lagi tak terlintas dalam sedetikpun buatku untuk ikutan acara donor darah. Membayangkan jarum ditusukkan ke tangan terus disedot darahnya aja sudah buat ngilu. Apalagi dulu temanku sekosan habis donor darah, beberapa waktu kemudian kena demam berdarah. Makin mantaplah aku untuk tak kenal dengan yang namanya donor darah.

Tapi itu semua dulu. Ketakutan itu ternyata hanya ketakutan yang sebenarnya tak perlu. Bisa dibilang perkenalanku dengan donor darah adalah karena keterpaksaan saja. Suatu waktu, kompleks kantorku ngadain event donor darah, setiap kantor diminta daftar pendonor darah. Bukan, tentu saja aku tak mengisi daftar itu karena aku hanya menganggap info event itu angin lalu saja.

Sampai kemudian di hari H, teman temanku se-bagian kerjaan- pada mau donor, terus pas berangkat mereka pada ngecenginku. “Masak sih ga berani donor darah mas?” kata mereka. “ga ah males”. Percakapan itu terus berlanjut sampai lama lama kupingku panas juga. Aku pikir masa iya sih aku ga berani. Oke aku pun bertekad paling tidak sekali dalam hidupku, aku harus mencoba. Aku pun ngacir ke lokasi bareng mereka.

Pertama, ngisi formulir yang disediakan lalu dicek tekanan darah dan Hb dan kalau memenuhi syarat bisa lanjut donor. Apesnya syarat itu terpenuhi yang artinya mau ga mau, aku harus pasrah ditusuk jarum. Sampai giliranku disebut, aku pun pasrah saja apaun yang terjadi, toh semua untuk niat baik. Tak lebih dari 15 menit proses donor darah pun selesai. Aku pun tertegun, “kok ternyata biasa aja, kok ternyata sakitnya ya ga seberapa”. Lalu aku menertawakan kebodohanku selama ini. Ngapain aja aku selama ini, padahal jika sedari dulu aku bisa membantu orang lain lebih banyak yang membutuhkan darah.

IMG_20170426_091407.jpg

Menunggu antrian cek tekanan darah dan Hb

IMG_20170426_094249_1493175757345.jpg

Dulu jarum ini yang buat aku keder

Sama halnya dengan kasus makan durian di postinganku yang dulu, yang tadinya aku benci malah jadi menunggu-nunggu kapan lagi ada event donor darah . terakhir aku mencoba langsung ke PMI Pusat di Kramat tapi aku ditolak donor karena Hb ku sedang ketinggian. Kecewa? Sudah pasti mengingat pas kesana, aku benar dalam kondisi sedang “insyaf”. Sebulan kemudian aku mencoba lagi tapi kali ini ke UDD di Senayan City dan Hb ku memenuhi syarat. Yeiiii…koprol.

Semoga saja aku bisa rutin donor darah untuk membalas “kebodohanku” dimasa lalu.

Info tambahan

  1. Donor darah bisa dilakukan tiap 75 hari sekali, ada juga donor yang bisa dilakukan yaitu donor  plasma tapi aku masih takut kalau yang ini.
  2. Kartu Donor, dari info yang aku lihat di internet masih banyak yang belum terintegrasi. Ada UDD di suatu daerah yang sudah berbasis database jadi ga perlu bawa kartu manual untuk dicappun ga apa-apa karena sudah tercatat. Tapi di UDD lain masih ada yang manual jadi jika donornya berpindah pindah masih mengandalkan kartu donor yang manual. Nah kalau misal setahun hanya bisa donor 4x, untuk mencapai donor 100x berarti butuh 25 tahun. Apa mungkin kartu dalam bentuk kertas masih bisa bertahan dalam kondisi bagus? Hanya Tuhan dan para pendonor ke-100 kali yang tahu.
  3. Donor darah di UDD Kramat bisa dilakukan kapan saja 7 hari 24 jam, tempat donor darah ada di lantai 5. Begitu masuk gedung langsung naik lift ke lantai 5. Update Mei 2018, sekarang donor darah sudah pindah di lobi lantai 1. 

 

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s