#Kondangtrip : Bromo

Di antara chat grup wa siang itu dipenuhi chat dari anak-anak kantor. Katanya sih mereka mau kondangan ke Malang soalnya salah satu teman kantor nikah disana.

Gw diajakin juga sih cuman gw masih kebayang pengalaman sebelumnya waktu ke Malang sebelumnya. Waktu itu naik kereta naik jam 15.00 sampai sana sekitar jam 8 pagi yang artinya lebih dari 15 jam perjalanan. Baru ngebayangin saja udah kerasa pegelnya.

Baca juga cerita sebelumnya waktu gw pergi ke Malang disini (Tour de Jatim Bali Part 1) dan (Trip to Malang)

Gw mutusiin ga ikut. Waktu berlalu dan chat chat durjana itu datang lagi lalu muncullah kata Bromo di situ.

200w
Bromo? Serius lu pada?

Weelah 2x sudah gw ke Malang dan belum jadi kesana. Alam bawah sadar gw ngerespon menggerakkan jari jari gw dan membalas chat di wa “gw ikutan”. Ya Tuhan maafkan hambamu yang plinplan ini.

Untuk urusan tiket berangkat pergi sudah diurus sama mereka, gw tinggal ikutan dan bayar. Nah masalahnya jadwal kereta jam 18.30 sedangkan jam bubaran kantor jam 17.00 dengan catatan paginya gw ga telat.

Damn, gw lupa berangkat paginya lebih dari setengah 8 sekitar jam 7.50 yang artinya sorenya gw mesti ganti 20 menit. Jadi kami cuma punya waktu sekitar 70 menit untuk sampai Senen. Belum lagi masih harus jalan dulu ke stasiun Duren Kalibata. Jadilah sore itu kami seperti perserta Amazing Race.

giphy (8)
Gapleki…keretone wes arep menyang

Sampai di stasiun Juanda sekitar pukul 18.05 langsung lari lari keluar nyari ojek ke Senen. Jalanan macet, gerimis datang lengkap sudah hectic sore ini. 10 menit berlalu dan kami sampai di Senen masih harus antri cetak boarding pass (boarding ditutup 10 menit sebelum berangkat).

Dapat boarding langsung kami masuk ke antrian check in, dan lari lari ke nyari gerbong kereta sesuai tiket. Gw lirik jam masih ada sekitar 3 menit sebelum berangkat. Mampir bentar ke mesin box minuman. Gw pegang 2 lembar 10 rebuan. Gw masukin satu dan pilih minumannya.

“mas, pinjam dulu dong 10 rebunya buat beli juga” teman kantor gw –Septa- ngomong ke gw.

“lah tadi gw pegang 2 lembar 10 rebuan kok. Ini baru gw pakai 1 tapi kemana tadi yang satu” gw bingung nyari duitnya.

“yaudah deh pas, aku pakai uang sendiri aja”

Kami pun bergegas menuju tempat duduk di kereta. Baru juga pantat dapat kursi, kereta berangkat. Gw terdiam, duit 10 rebunya ada di tangan gw, gw pegang dengan minuman yang gw beli.

giphy (2)
Dodol dodol dodol

***

Singkat cerita sampailah kami di Malang siang hari berikutnya. Entah kenapa keretanya molor dari jadwal yang ada. Nyampe sana sudah jam 11.30. weleh. Acara kawinannya aja sudah mulai.

Kami memutuskan untuk ke rumah Reni (salah satu anggota rombongan) untuk mandi, ganti baju dan juga minta makan siang. Niatnya sih cuma sebentar tapi yang namanya cewek-cewek tetep aja jadi lama nungguin mereka dandan. Kami yang cowok mandi di masjid terdekat karena kalau nungguin cewek mandi bisa sampai magrib.

mas ini kira-kira perjalan berapa ke lokasi?”gw nanya ke supir yang nganterin kami.

“kira-kira kalau lancar 30 menit”

Oke artinya dekatlah dan juga makanan masih ada haha. Jam 13.30 kami berangkat ke lokasi. Ga disangka geledeg datang dan hujan deras pun mengikuti. Mobil stag di jalan dan gw tertidur. Selang waktu berlalu gw ke bangun ketika mobil sudah dekat ke lokasi.

Gw lihat jam di hape. Jam 16.30.  Apeee? mata gw salah, masak setengah jam dari setengah satu bisa jadi jam segitu. Gw tanya ke yang lain dan emang bener. Ajaib emang nih supir. Duh tinggal air putih kali nih di kawinan.

Begitu sampai lokasi, kami disambut penerima tamu. Sang pengantin masih nungguin kami. Maafin kami ya Mel jadi kamu harus nunggu di pelaminan. Sang mempelai pria sudah kelelahan (ehem) dan tidur karena lagi ga fit. Jadilah kami berfoto tanpa mempelai pria disana.

IMG_20160730_170708

Setelah sekiranya cukup, kami berpamitan. Pada awalnya anak-anak merencanakan mau ke Jatimpark 2 dan Museum Angkut. Gw sih udah tahu ga bakal terkejar. Jatim Park yang seluas itu takkan cukup untuk dijelajahi hanya dalam waktu yang mepet. Apalagi Mau ke museum Angkut.

Akhirnya hanya opsi kedua yang diputuskan mau kesana. Itupun sampai sana sudah sekitar Magrib dan menurut info museumnya tutup jam 20.00. ini berkebalikan dengan kali terakhir gw kesana yang kepagian 4 jam (nyampe jam 8 buka jam 12).

Dengan kata lain, kami menjadi pengunjung terakhir malam ini, setiap kami bergeser spot pameran, spot sebelumnya dipel dan dimatikan listriknya. Hahanjrit. Udah macam pelanggan ga bayar mau diusir tapi ya gimana lagi risiko berkunjung di jam terakhir.

Kelar berkeliling Museum Angkut, kami beralih ke Alun-Alun Batu. Semua sudut alun-alun penuh dengan pengunjung karena malam Minggu. Suasananya masih sama dengan 3 tahun yang lalu. Penjual makanan dimana mana, bianglala yang dipenuhi antrian, penuh sesak dengan pengunjung.

Setelah berkeliling sejenak kami memutuskan makan malam di depot ayam goreng yang bersebelahan dengan depot sate kelinci.

Perut sudah kenyang terisi dan badan sudah lelah, Reni mengajak kami ke rumah temannya yang sudah menyediakan tempat mampir sekaligus menunggu perjalanan berikutnya ke Bromo nanti malam.

***

Tengah malam, kamar tempat kami tidur digedor gedor, lagi makler belum ada setengah jam kami sudah dibangunin untuk berangkat lagi Bromo. Untungnya di alun alun tadi sudah sempet beli sarung tangan untuk menghalau dinginnya malam itu.

Di perjalanan kami tak banyak bicara, semua membisu dan pergi ke alam mimpi masing. Tahu tahu sudah sampai di pos masuk ke Bromo, dari sini kita naik mobil hartop menuju pananjakan. Dari Penanjakan bisa trekking sekitar 20 menit atau kalau mau juga bisa naik ojek menuju puncak untuk melihat sunrise. Jalan yang ga seberapa lebar itu penuh dengan orang trekking sekaligus ojek ojek yang kekeuh nawarin ojek walau sudah ditolak.

Sampai di puncak, spot sudah penuh dengan pengunjung lainnya. Kami memilih pos sedikit di bawah dekat toilet umum. Sayangnya sunrise kali ini bisa dibilang biasa aja. Pengunjung mulai meninggalkan lokasi dan balik ke mobil hartop untuk menuju bukit teletubbies dan Lautan Pasir Bromo.

Ketika di Bromonya, banyak tukang kuda nawarin tumpangan ke atas. Sebagaian dari kami nolak sebagian ngiyain. Gw lihat puncak Bromo kayaknya deket, jadilah gw milih jalan. Keputusan yang gw sesali ketika sudah nyampai tengah jalan.

Sampai di puncak Bromo gw baru ngerti kenapa dinamakan pasir berbisik, angin dari bawah membawa debu debu dari tangga yang dilewatin pengunjung ke atas sehingga ketika kita di atas banyak debu beterbangan. Untuk berlama-lama di atas rasanya menyakitkan untuk mata.

Mungkin cuma 10 menit kami di atas dan kami memutuskan menuruni tangga Bromo. Baru juga nyampai bawah, hape gw berdering, alamak bos gw nelpon.

Nyahok deh. Plis pak ini hari Minggu dan gw lagi liburan. Teman teman duluan ninggalin gw dan gw mutusin naik kuda baliknya.

Badan kotor kami penuh dengan debu, pengen mandi tapi air di pos masuk Bromo hadem banget. Kami paksain mandi karena nanti mau ke airport. Setiap gebyuran air yang gw ambil membuat mati rasa di tangan saking dinginnya seperti mandi dengan air es.

Sebelum ke airport di Surabaya kami mampir makan siang di Resto Kepiting Cak Gundul. Dan kami pun balik ke Jakarta dengan riang gembira karena sudah kenyang.

Iklan

4 pemikiran pada “#Kondangtrip : Bromo

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s