Lembang : Bosscha, Floating Market, De Ranch, Tangkuban Perahu dan De Farm

Pagi ini masih gelap ketika saya memencet alarm dan terbangun. Ouup… saya mesti bangun dan segera bergegas. Iya saya mau ke Bandung, maunya pun sekedar mau gara gara anak-anak di grup jalan pada ngomongin tentang Bosscha di Lembang. Ada yang semangat mau kesana tapi akhirnya hanya jadi sekedar wacana. Kalau sudah gini ya mending jalan sendiri aja. Toh hanya ke Bandung doang.

Setelah sedikit berselancar di dunmay tentang Lembang, akhirnya saya memutuskan mau kemana saja, kebetulan juga beberapa obyeknya deket-deketan. Plus angkotnya juga mudah. Pagi ini saya naik X-Trans turun di depan RS Hasan Sadikin, nah dari situ tinggal naik angkot yang langsung ke arah lembang. Angkotnya ini ada tulisan “Lembang” di depannya. Selain itu, ukuran angkot ini agak gedean daripada angkot pada umumnya jadi mudah untuk menemukan angkot ini.

Sekitar setengah jam, saya turun dekat Bosscha, dilanjut jalan sekitar 500 meter sampailah di depan pintu masuk Bosscha. Saya sengaja kesini hari Sabtu karena hari ini terbuka buat umum. Dengan harga tiket sebesar Rp15.000, saya memasuki area ini. yeah akhirnya saya bisa ngelihat Bosscha *norak. Ternyata pengunjung yang datang di hari ini juga lumayan banyak. Sebagaian besar didominasi keluarga dan anak sekolahan.

Spot pertama, saya masuk ke tempat teropong Zeiss (dibaca Chais). Kenapa dibaca Chais? Itu cara membaca bahasa Jerman. Si mbak yang jadi pemandu banyak menjelaskan tentang seluk beluk teropong ini, dari ukuran, asal, pembuat dan cara menggunakannya. Teropong ini beratnya sampai 7 ton. Sudah ga usah dibayangin beratnya.

Jpeg

Sayangnya, kita ga bisa nyobain teropong ini. Kalaupun mau nyoba hanya bisa mengikuti program teropong malam di musim kemarau di tanggal-tanggal tertentu. Itupun bukan dengan teropong ini.

Untuk lebih mengenal mengenai perbintangan (astronomi), kita bisa mengikuti penjelasan berikutnya di ruang multimedia. Gosh, ternyata bintang di dunia ini banyak dan bumi ternyata hanya seperti remah-remah jika dibandingkan bintang-bintang yang ukurannya guedeeee. Jadi kenapa ada lagu bintang kecil yak? Seperti kata pepatah di atas langit masih ada langit, di atas galaksi yang kita tempat masih ada galaksi lain dan jumlahnya men milyaran.

Rasa penasaran saya akan Bosscha akhirnya terjawab sudah dan ini waktunya saya melanjutkan kaki ini melangkah. Sedikit melangkah dari Bosscha saya menuju ke Floating Market Lembang. Bagi saya yang lebih suka wisata berbau alam, rasanya saya ga sreg dengan tempat ini. Isinya kulineran semua. Jadi saya hanya sebentar dan jalan lagi. Kali ini saya memutuskan untuk check ini dulu di penginapan Seruni Guest House. Untuk ukuran guest house, penginapan ini lumayan juga. Kamarnya luas dan bersih.

Nah setelah sedikit beristirahat, saya jalan lagi. Kali ini saya mau ke de ranch. Dari penginapan cukup jalan kali 5 menit melewati Tahu Tauhid (tahu syariah kali ya) sampai di depan pintu De Ranch. Cukup dengan tiket seharga Rp10.000 kita bisa menukarkannya dengan welcome drink segelas susu segar. Sama sih dengan di floating market juga. Bedanya di floating market minumnya bisa milih selain susu juga.

Di de ranch, saya lumayan excited karena ada kuda secara terakhir saya mau naik kuda adalah tahun 2012 waktu saya mau ke Malino tapi ga jadi gara gara kuda kecil kayak keledai.

Jpeg

Dan kamvret sekarang ga bisa lagi naik gara gara ada batasan berat badan. Diskriminatiffff!. Kalau selain kuda, kayaknya disiapin buat wisata anak kecil macam trampolin, bola air, balapan sepeda, naik delman dan lain-lain. Lagi seneng-senengnya liat sana sini eh mendung banget. Saya pun ngacir balik ke penginapan.

Hari berikutnya

Ternyata eh ternyata cara mau ke Tangkuban Perahu itu gampang banget. Dari penginapan tinggal jalan kaki sedikit ke perempatan arah ke Subang lalu naik angkutan elf ke Subang lalu turun di depan gerbang menuju Tangkuban Perahu. Cara lain bisa juga naik angkot ke Cikole tapi toh akhirnya mesti nyambung dengan elf ke Subang juga.

Nah di depan pintu gerbang Tangkuban Perahu sudah tersedia mobil mobil yang menyediakan jasa mengantar sampai ke atas. Pas saya datang lagi agak sepi jadi ga ada penumpang lain. Alhasil saya bilang kalau mau ngopi dulu sambil nunggu kalau ada penumpang lain. Mau ngojek ga ada ojek. Kata penjual kopinya entar bisa dimarahi kalau naik ojek. Heloow…siapa dia marah ke saya?

Saya memutuskan mau jalan aja karena sudah hampir setengah jam ga ada tanda tanda penumpang lain datang. Eh pas saya beli tiket ditanyain petugas

“mas yakin mau jalan kaki? Jauh mas. Nanjak lagi”

“saya sih pengen ngojek pak tapi ga ada ojek”

“pengen ngojek, sini biar kupanggilin”

Dan si mas manggil temannya yang punya motor. Dan temannya malah nawarin kalau mau sewa motornya cukup dengan Rp50.000 sepuasnya. Weladalah rejeki. Orang angkot yang di depan nawarinnya aja segitu buat berangkat doang. Akhirnya saya pun bebas dari kaki pegel karena melihat trek yang emang jauh dan berkelok-kelok.

Jpeg

Setelah puas menyusuri setiap sudut Tangkuban Perahu, saya turun balik. Pas sampai balikin motor eh malah hujan deres banget. Saya jalan ke bawah, eh sebelah kanan kayaknya ada kebun the. Niatnya mau mampir bentar kali aja hujan reda.

Bukannya reda malah menjadi jadi hujannya. Untungnya di dekat situ ada deretan warung. Saya mampir sekalian makan siang. Untuk kali ini saya nyobain yang paling aneh (kebiasaan saya kalau ke tempat baru nyari menu paling aneh) yaitu sate kelinci. Rasanya enak, teksturnya antara empuk dan keras, gimana ya pokonya enak. Secara dalam kamus saya makanan itu cuma enak dan enak banget :p

Jpeg

Hujannya ternyata cukup lama. Saya nungguin elf yang lewat tapi penuh terus. Datang lagi. Penuh lagi dan begitu terus sampai kesel rasanya. Giliran ada yang mau berhenti cuma tersedia tempat di dekat pintu dengan setengah tempat duduk. Tapi karena dibawa hepi ya saya cuma ketawa ketawa aja duduk dekat pintu.

Berikutnya saya mampir ke De Farm. Yaelah bagi saya yang anak desa kayaknya tempat ini biasa aja deh tapi kok bisa rame banget gitu pengunjungnya. Jadi De Farm itu ga luas luas banget. Cuman ada 1 spot yang isinya hewan hewan seperti kelinci, kambing dan lainnya. Bagian lainnya paling beberapa spot foto itupun yang gitu. Blaahh.

Jpeg

Setelah itu saya lanjut ke Ciwalk buat nunggu pulang naik X-Trans.

Iklan

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s