Weekend Escape : Curug Kencana Bogor

 

Sejatinya liburan 3 hari ini paing ideal buat mudik. Tapi apalah daya tiket kereta sudah ludes dari Desember. Mau ngebus males, mau pesawat males duitnya, mau jalan kaki apalagi. Untungnya teman saya-Rosyd– ngajaikin ngecurug di Bogor barengan dengan teman-teman para pencari curug #ngok

Rencananya sih kami mau ke curug yang dekat sekitaran Sentul yaitu curug Leuwi Hejo. Malam sebelum berangkat kami sudah janjian berkumpul di Tanah Abang jam 6 pagi. Eh paginya saya malah telat jadinya sudah ditinggal duluan saya mereka. Akhirnya saya ikutan kereta yang berikutnya.

Di Tanah Abang saya bertemu beberapa teman yang juga mau ikutan ngecurug kali ini. Ada Harib, Rosyd, Monika dan temennya, Gilang dan istri serta yang terakhir datang si Dwiki. Karena semua sudah datang, kami segera naik kereta menuju Bogor. Perjalanan sekitar 1 jam sampai stasiun Bogor.

Hal pertama yang kami cari adalah sarapan karena pagi ini belum sempet nyari sarapan. Di Jembatan Merah dekat stasiun ada yang jualan docang. Temen teman pada makan itu, kalau saya lebih milih makan bubur ayam.

Untuk menuju curug kami memilih nyarter angkot biar gampang. Jalanan menuju curug cukup mudah di setengah perjalanan pertama, setengah yang kedua jalannya sempit dan lumayan padat kendaraan.

Sayangnya begitu sampai di dekat Leuwi Hejo baru dikasih tahu kalau lagi ditutup. Akhirnya kami pindah haluan, kami mau ke curug Kencana karena yang paling dekat.

Eh ternyata buanyak banget pengunjungnya. Sepertinya sih orang-orang yang pada mau ke Leuwi Hejo juga cuman kepalang basah ya pada ke curug Kencana juga.

Untuk melihat curug kita harus trekking dulu mengikuti jalan setapak kurang lebih 1,5 km dengan trek yang lumayan sulit. Bagi saya yang jarang olahraga lumayan berat trekking ini tapi lelah yang mendera akan terbayar ketika kita sudah sampai di curugnya. Curugnya memang ga terlalu bagus tapi airnya yang seger banget dan dingin beneran kayak membayar lelahnya trekking sampai kesitu.

Setelah puas, barulah kita turun lagi untuk ke tujuan berikutnya. Kami berunding antara mau ke pemandian air panas gunung Pancar atau mau kulineran saja di taman kencana. Akirnya kami memilih opsi pertama.

Sialnya ketika angkot yang kami sewa mau naik tanjakan malah ga kuat, angkotnya mau balik mundur. Kami berhamburan keluar angkot. Mobil di belakang kami sudah ketakutan kalau kemunduran angkot kami. Untungnya angkotnya ga bablas mundur masih bisa naik lagi.

Begitu sampai di pertigaan masuk ke pemandian gunung pancar kami berubah pikiran lagi. Jarak 15 km dengan trek sempit plus lagi ramai orang liburan sepertinya bukan keputusan tepat kalau mau kesana. Kami memilih balik ke kota mau kulineran saja.

Tempat pertama yang kami tuju adalah Pizza Kayu Bakar tapi waiting listnya saja sudah 10 nomor. Pindah lah kami ke Macaroni Panggang eh waitingnya jauh lebih membludak.

Pindah lagi ke Warung Taman buat sekedar minum. Lalu buat makannya kami ke Warung Gumbira. Disini tersedia berbagai stan makanan dengan menu beda-beda. Kita tinggal pesan, bayar di kasir dan pesanan pun datang.

Setelah makan malam kami menuju stasiun Bogor setelah sebelumnya mampir ke masjid Ibnu Syina buat Magriban dulu. Pukuk 19.00 kami naik kereta untuk kembali ke Jakarta.

*foto credit to Rosyd dan Dwiki

Iklan

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s