Lost in Ramang-Ramang

“The gladdest moment in human life, me thinks, is a departure into unknown lands.” – Sir Richard Burton

Sebenarnya trip ini sudah saya dkk lakukan waktu saya masih kerja di Makassar. Hanya waktu itu saya sibuk kerja dan lagi males buat nulis. Kebetulan  saat saya lagi mau bersih bersih file di laptop malah nemu foto foto ketika kami tersesat di Ramang-Ramang. Jadinya saya pengen menuangkan pengalaman tersebut dalam sebuah postingan cerita.

Jadi begini ceritanya… *ala ala kartun MNC*

Muda dan berbahaya. Begitulah kami. Sekelompok pekerja di awal 20an dan jauh dari orang tua. Nah kalau galau kangen keluarga di rumah sudah mendera maka jalan-jalanlah obatnya. Di Makassar banyak banget obyek yang bisa dikunjungi. Mau yang sejarah, religi, pulau, pantai dan buatan manusia juga ada.

Untuk kali ini kami mau ke Ramang-Ramang. Jadi di sekitar Maros, Sulawasi Selatan ada beberapa obyek wisata yang berdekatan yaitu air terjun Bantimurung, gua Leang-Leang dan Ramang-Ramang.

Kami pernah ke Bantimurung jadi saya mengira trip kali ini kami mau ke Leang-Leang. Eh belakangan saya baru tahu yang dimaksud Rere ya Ramang Ramang. Fyi Ramang-Ramang merupakan obyek wisata melihat pemandangan dengan naik perahu di Maros.

Awalnya Rere yang punya inisiatif ngajakin kami kesana. Kami pun setuju aja. Dengan mengendarai motor dari kosan Tamalanrea kami berangkat dari sekitar pukul 8 pagi.

Tak ada gambaran pasti dimana tempat yang akan kami kunjungi karena di maps juga belum ada.

Bukannya nyampai di lokasi tujuan kami malah tersesat di pabrik semen Bosowa. Sepertinya kami salah ambil belokan. Kami balik lagi ke suatu pertigaan menyusuri jalanan pemandangan kanan kiri persawahan yang menghijaukuning tanda akan segera panen.

Camera 360

Begitu sampai di spot yang dimaksud Rere (tempat awal untuk sewa perahu) kami kecewa karena hari itu tak ada perahu yang bisa kami sewa.

Sebelum berpikir ganti spot kami makan siang dulu di sebuah warung dekat situ yang menjual Coto.

Setelah kelar makan kami nekat aja menyusuri jalanan di sekitaran situ dengan naik motor sampai ketemu seorang ibu ibu.

“dekat sini ada lo kolam bidadari” kata ibu itu.

“serius bu? “

“iya tinggal jalan aja mengikuti jalan ini”

Dengan semangat 69 kami mengikuti kata ibu itu tapi sejauh kami lihat tak ada petunjuk apa pun disekitaran sana. Kami malah menemukan batuan karst di sawah sawah yang sepertinya tidak biasa.

Setelah puas menyusuri bebatuan karst itu barulah kami mencari lagi kolam bidadari. Kali aja kami bisa ambil selendang keleting kuning 🙂

Kami tersesat lagi di jalanan persawahan sampai bertemu dengan 2 orang pria paruh baya. Kami bertanya kepada mereka tapi mereka juga ga tahu. Ternyata mereka orang daerah situ yang lagi mau mudik buat nyekar.

Kemudian merekalah yang gantian bertanya kepada seorang laki-laki tua yang kebetulan lewat situ. Bapak itu ga bisa bahasa Indonesia.

Kami minta  tolong kali aja bapak itu mau jadi guide kami. Bapak itu setuju. Horeyyyy.

Setelah deal kami pun mengikuti bapak itu jalan. Begitu pula dengan lelaki yang kami temui. Mereka juga jadi penasaran dengan kolam Bidadari.

Saya ga pernah ngebayangin sebelumnya kalau jalan yang kami lewati bakal “luar biasa”. Kami harus melewat genangan air, perbukitan dengan tanaman merambat di kanan kiri, kebon dengan ada tokai sapi dimana mana, jembatan kayu yang di bawahnya kayak lumpur hisap (lebay), dan mendaki perbukitan turun naik.

Kami cuma bisa memaki maki dalam hati. Fak. Jalan apaan ini. Apalagi beberapa kawan saya pada salah kostum seperti mau ngemall. Saya cuma bisa ngakak saat melihat mereka kerepotan nyincing celana saat mau lewat genangan lumpur.

Setelah melewati medan  yang sulit itu barulah kami sampai di kolam Bidadari. Gila men kami terkejut. Luar biasa. Kolam bidadarinya…biasa banget.

Camera 360

Kolam bidadari ini tak lain tak bukan hanya seperti kolam air di atas bukit dikelilingi pepohonan. Kami berhenti sejenak sekedar memenuhi keingintahuan kami tentang seperti apa kolam ini.

Bapak guide mengajak kami jalan lagi. Kali ini dimenunjukan gua purbakala gitu. Tapi  ya gitu doang.

Nah yang paling ngeselin ternyata bukan yang tadi tapi pas mau pulangnya. Lah ternyata ada jalan yang lebih bagus tanpa lewat jalanan “setan” seperti saat mau berangkatnya.

Lantas dari tempat naruh motor kamu balik ke kosan dan berakhirlah trip ala pale lu peyang kali ini.

Iklan

7 pemikiran pada “Lost in Ramang-Ramang

    1. yang unforgetable ya?
      kalau yang berdekatan sih gini. Air terjun Bantimurung, Leang2 dan Ramang2.
      Kemudian sekitaran pantai Losari (Benteng Rotterdam, masjid terapung, makam sultan diponegoro, pantai Samalona).
      Ada juga waterpark yg saya lupa namanya.Transstudio.
      jauhan dikit Toraja, pantai Bira, jauhan lagi taman laut Takabonerate.
      kalau mau makanan : Iga Bakar Karebossi, gulai kepala ikan Ulu Juku, Coto, dan lain-lain

      Suka

  1. Ping-balik: [Makassar] Ke Bantimurung : Kingdom of Butterflies | Kubikel Yusuf

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s