Solo Traveling ke Dieng : Negeri di Atas Awan

Sebelumnya…

Dieng berasal dari kata Di dan Hyang yang artinya tempat para dewa. Hal ini karena jaman dulu orang Hindu membangun candi disini seperti candi Arjuna. Candi ini seperti candi pada umumnya yang letaknya di dataran tinggi sebagai lambang bahwa dewa berada di tempat yang tinggi.

letaknya persis di depan penginapan Bu Djono
letaknya persis di depan penginapan Bu Djono

Waktu saya check in, mbak Dwi memberi saya peta sederhana tentang obyek obyek wisata di area Dieng itu. Melihat jarak antar obyek yang tak terlalu jauh, saya memutuskan tidak sewa motor alias pengen jalan kaki saja untuk melihat obyek obyek itu.

Obyek wisata di Dieng dibagi jadi dua yaitu Dieng 1 terdiri dari Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Dieng Plateu Theater, dan Batu Ratapan Angin. Sedangkan Dieng 2 merupakan obyek yang agak jauh dari penginapan seperti kawah Candradimuka, sumur Jalatunda, dan danau Merdada. Untuk trip kali ini saya hanya mengunjungi daerah Dieng 1 saja.

Setelah mandi saya bergegas berangkat dari penginapan sekitar pukul 8 pagi. Oiya meskipun sudah disiapin air panas, tetap saja saya menginggil kedinginan setelah mandi karena memang dinginnya ekstrim *ga penting cup*.

Bagi saya pantang makan di tempat yang sama kalau lagi liburan. Jadinya pagi itu saya ga mau pesan sarapan di penginapan apalagi di lantai bawah penginapan juga ga ada orang waktu saya mau berangkat.

Obyek yang saya kunjungi pertama adalah danau Warna dan Danau Pengilon. Letaknya 1,3 km dari penginapan. Karena daerah dingin jadi jalan untuk jarak segitu tidak berasa. View danaunya bagus banget. Untuk melihat view yang lebih bagus kita bisa mendaki dari arah gerbang masuk danau ambil ke sisi kiri. Lalu akan sampai di belakang Dieng Plateu Theater, jalan lagi ke sisi kiri sampailah di spot yang menarik untuk melihat danau dari atas (saya lupa nama spot ini).

salah satu spot telaga Warna
salah satu spot telaga Warna
semak belukar di danau Pengilon. Pengiloan dari kata ngilo (Jawa) yang artinya ngaca atau cermin
semak belukar di danau Pengilon. Pengilon dari kata ngilo (Jawa) yang artinya ngaca atau cermin

Jika ingin melihat lebih ke atas lagi maka kita juga bisa naik ke Batu Ratapan Angin. Kalau mau kesitu perlu bayar lagi. Pintu masuknya lewat depan Dieng Plateu Theater. Waktu saya bayar, eh kakek yang jaga diem aja ga ngasih tiketnya. Demi mendukung penerimaan PNBP pemerintah, saya meminta tiketnya ke dia.

pemnadangan dari Batu Ratapan Angin
pemandangan dari Batu Ratapan Angin

Sebelum masuk ke Dieng Plateu Theater saya ngemil dulu di warung didepannya. Ternyata memang enak makan kentang goreng asli sana, cukup buat ganti sarapan.

Dieng Plateu Theater merupakan film singkat yang menyajikan sejarah terbentuknya Dieng menurut ilmu geografis. Filmnya singkat, ga nyampai setengah jam. Saya paling treyuh saat sceen tahun 1970an ada gunung meletus yang mengakibatkan banyak korban. Soalnya saya jadi inget waktu Merapi meletus tahun 2010. *sedih*

Jpeg

Jpeg

Setiap obyek wisata di kawasan Dieng ini ada tiket masuknya. Dieng Plateu Theater Rp8.000, danau Warna dan Pengilon Rp5.000, Batu Ratapan Angin Rp10.000, kawah Sikidang dan Candi Rp10.000.

Setelah puas lihat Dieng Plateu Theater dan danau saya beranjak jalan lagi sampai ke depan candi Bima. Waktu leyeh leyeh sambil nunggu waktu sedikit siangan, datanglah bapak bapak yang tampak sudah berumur. Dari perawakan dan tampilan sih sepertinya dia penjaga keamanan. Hasil ngobrol sana sini ternyata bapak itu namanya pak Fuad. Dia seorang penjaga keamanan di perusahaan gas yang digunakan untuk pembangkit listrik di Dieng. Pak Fuad juga nawarin saya untuk ojek ke kawah Sikidang dan candi Arjuna tapi saya tolak. Saya maunya ojek untuk besok paginya aja kalau mau ke Sikunir. Setelah tawar menawar akhirnya deal juga walaupun kayaknya kemahalan.

kompleks canda Bima
kompleks canda Bima
candi Bima
candi Bima

Kaki melangkah lagi. Dari candi Bima ke kawah Sikidang sekitar 1 km. untungnya waktu saya jalan juga ada ibu dan anaknya lagi jalan juga. Jadi saya ada teman ngobrol sepanjang jalan kaki itu. Ibu itu ternyata salah seorang pedagang di kawah Sikidang itu.

jalan menuju kawah Sikidang, pipa gas yang digunakan untuk pembangkit listrik
jalan menuju kawah Sikidang, pipa gas yang digunakan untuk pembangkit listrik

Kawah Sikidang tidak terlalu luas. Uniknya kita bisa mendekat banget ke kawahnya. Paling sekitar 1 meter saja dari pembatas.

Jpeg

Jpeg

dagangan alam
dagangan alam

Kemudian saya berlanjut ke candi Arjuna. Sayangnya waktu saya lagi mulai nyari spot yang bagus buat foto, datanglah rombongan grup jalan mak crit mak plekentur. Sejurus kemudian mereka memenuhi berbagai titik spot di kawasan candi Arjuna. Kezel.

jalan menuju canda Arjuna
jalan menuju canda Arjuna

Dalam bayangan saya candi Arjuna itu kirain candi yang besar, minimal kayak Prambanan lah. Ternyata candi candi yang ada disitu kecil kecil banget. Malahan lebih besar candi Bima. Setelah menunggu cukup lama grup tadi pada pergi barulah saya bisa ambil gambar lumayan nyaman. Baru setelah itu saya balik ke penginapan.

kompleks candi Arjuna
kompleks candi Arjuna

***

Esok paginya pak Fuad menjemput saya ke penginapan jam 4 pagi. Jarak antara penginapan dan desa Sembung (desa terakhir sebelum mendaki) palingan cuma 7 km-an. Saran saya sih kalau lagi ga ngetrip sendiri mending nyewa motor karena ga jauh-jauh juga juga, sudah gitu lebih murah. Kalau ga tahu jalan pas pagi, bisa dicoba dulu sore sebelumnya jalan menuju kesana jadi besoknya sudah tahu dan ga kesasar.

Bareng dengan kami dari penginapan bu Djono tapi ga nginap disitu adalah sepasang muda mudi yang ingin ke Sikunir juga. Cuma sayangnya mereka salah kostum kayak mau main ke mall. Saya jadi kasihan sama ceweknya karena saat mau mendaki kedinginan sementara mereka ga bawa perlengkapan untuk menghalau dingin, sudah gitu pakai sepatu flat dari karet. Yassalam. Kalau saya yang jadi cowoknya saya beliin lah  dulu syal di pedagang pelataran parkiran desa Sembung. *heh kok jadi ngomongin orang*

Sekali lagi saya katakan, ga perlu bawa guide untuk mendaki kesini mah. Lawong mendakinya aja palingan 20 menit dengan trek yang bisa dibilang mudah. Palingan risiko karena dipinggir-pinggirnya jurang aja. Tapi yang mendaki juga banyak jadi ya ga masalah juga ga bawa guide. Kok rasa rasanya saya nyinyir bener ya dengan guide. Ya karena saya ga puas sama pak Fuad yang jadi guide saya. Sudah kemahalan eh motoin juga miring sana miring sini. Yamahmud. Jadi jangan tanya kontaknya dia, sudah saya hapus.

menunggu datangnya mentari
menunggu datangnya mentari
malah berkabut
malah berkabut
sunrise datang tapi ga terlalu terang
sunrise datang tapi ga terlalu terang
oke banget lah pokoe Dieng inih
oke banget lah pokoe Dieng inih

Sayangnya hari itu kabut tebal menyeliputi pemandangan sehingga sunrisenya juga kurang bagus. Pemandangan yang ada juga kurang wow-able jadinya pukul 6 pagi kami turun dan langsung balik ke penginapan.

Sekitar jam 9 pagi saya langsung check out, beli oleh-oleh carica di dekat terminal Wonosobo dan pulang ke rumah di Magelang.

Iklan

Satu pemikiran pada “Solo Traveling ke Dieng : Negeri di Atas Awan

  1. Ping-balik: Dieng : Perjalanan Wonosobo ke Dieng | Kubikel Yusuf

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s