Perjalanan Wonosobo ke Dieng

Sebelumnya…

letaknya persis di depan penginapan Bu Djono
letaknya persis di depan penginapan Bu Djono

Di pertigaan Magelang arah ke Temanggung sudah ada bus tujuan Wonosobo yang sedang menunggu penumpang. Setelah bertanya ke kondektur bus yang sedang teriak teriak menawarkan busnya, saya bergegas masuk ke bus dan memilih bagian pojok belakang supaya bisa leyeh-leyeh.

Perjalanan ke Wonosobo lumayan lama, sekitar 1,5 jam. Di sepanjang jalan yang dilalui didominasi pemandangan sawah yang sedang mengering karena kemarau dan juga tanaman andalan Temanggung yaitu tembakau.

mas kalau mau ke Dieng saya turun dimana ya?” saya tanya ke kondektur yang lagi ngitung kembalian ongkos bus.

mau ke Dieng? Kebetulan tuh ada dua orang juga yang mau kesana. Nanti turunnya di habisnya bus ini jalan terus nyambung mikro bus” jawab kondektur dengan panjang lebar.

Bertanya memang syarat utama kalau lagi traveling apalagi sendirian *yah balik lagi inget sendiri*. Waktu lagi kuliah aja saya jarang nanya tapi kalau lagi kondisi gini saya otomatis menyesuaikan. Untungnya orang-orang yang saya temui ramah-ramah banget kalau ditanya, bahkan kadang saya cuma nanya A dijawab A B C D J.

Akhirnya sampai juga di terminal Wonosobo. Kondisi terminal sama dengan terminal di daerah lain. Bedanya di sini relatif sepi kemungkinan selain karena itu hari Senin juga karena memang Wonosobo bukan jalur Magelangan-Jakarta sehingga load kendaraan di jalanannya juga sedikit. Karena jarak Wonosobo ke Dieng masih jauh, saya menyempatkan untuk cari makan siang dulu di terminal sekalian ingin nanya mikrobus yang arah ke Dieng.

Dari ibu penjaga warung saya diarahkan ke arah terminal yang sebelah utara.

biasanya sih di daerah situ mas busnya” kata ibu itu sambil nunjukin arah.

Saya jalan dan lihat beberapa pemuda yang kelihatannya juga mau akan atau sudah ke Dieng (bawaanya tas gunung yang gede gede itu). Sebelumnya nanya lagi saya saya sempetin dulu solat luhur di mushola dekat situ.

pak bus yang arah Dieng yang mana ya pak?” saya nanya lagi ke penjaga mushola sekaligus toilet umum disitu.

lah baru saja mas berangkat. Buat berapa orang mas?”.

buat saya aja pak” jawab saya, padahal sudah kelihatan juga saya sendiri.

gini aja mas busnya tak kasih tahu biar balik sini, masnya nunggu aja duduk disitu” kata bapak itu sambil nujukin tempat duduk panjang depan penjual gorengan. Duh baik banget bapaknya.

5 menitan kemudian mikrobusnya datang kesitu. Begitu saya masuk, kok rasanya ada orang yang familiar. Ternyata mereka yang tadi sebus dari Magelang sama saya. Lama juga ternyata perjalanan ke Dieng. Penumpang bus itu silih berganti naik turun. Setelah sekian lama baru bus berhenti.

yang Dieng, Dieng” teriak kondektur.

Bule yang kebetulan ada di bus itu pada kaget.

Dieng? Dieng?” bule itu nanya ke orang-orang dengan muka penuh tanda tanya.

Ternyata belum sampai. Disitu adalah pertigaan bagi para pendaki arah ke gunung Prau. Dieng yang kami maksud masih beberapa km lagi. Fiyuhhh. Orang yang bareng saya tadi turun disitu.

lha masnya mau turun dimana?” kondektur nanya ke saya.

Bu Djono mas”.

Bu Djono adalah nama penginapan yang saya dapat di internet. Karena waktu-waktu ini bukan musim liburan jadi saya sih mau go show aja. Bus berhenti tepat di depan penginapan bu Djono. Saya langsung menclok kesitu ga ke lain lain dulu, uda patenlah reviu orang orang dengan penginapan ini. Harga murah dan orangnya ramah, cocok.

Penjaga yang saya temui namanya mbak Dwi, orangnya ramah banget dan suaranya halus banget kayak baju baru disetrika. Harga sewa semalam per kamar  hanya Rp75.000. Waktu saya ngechat teman saya tentang harga itu teman saya sampai bilang “itu kamu sewa kamar apa WC”. Kamvretlah.

Mungkin karena badan saya masih kaget dengan suhu Dieng, rasanya kok dingin banget padahal masih jam 4 sore. Saya cek di hape suhu masih di kisaran 15 derajat. Kan ga dingin dingin amat berarti. Kalau sudah dingin maka lapar pun menyerang.

Setelah masuk ke kamar dan leyeh leyeh bentar saya keluar mau cari makan sekaligus lihat lihat. Warung ga ada yang saya temui. Yang ada cuma angkringan dekat situ. Yaudah saya langsung pesan susu jahe hangat dan makan nasi kucing. Kebetulan di angkringan itu juga ada dua pemuda yang dari penampilan sih anak gunung banget. Mereka lagi ngobrol sama bapak ibu penjual angkringan. Saya juga ikut larut dalam obrolan itu, eh tahunya mereka berdua juga dari Tangerang Selatan cuma saya lupa tepatnya darimana.

Setelah itu saya ke Indomaret yang  merupakan minimarket satu satunya yang  ada disitu untuk nyari air mineral kemudian ke ATM BRI yang juga satu satunya ATM yang ada. Kemudian saya balik ke penginapan. Anehnya baru juga nyampai penginapan kok saya lapar lagi. *elus perut*. Akhirnya saya pesan nasi goreng legendaris penginapan bu Djono dan ternyata memang enak banget masvroh.

Kelar makan saya ke kamar geglundungan mau tidur tapi kok lama ga tidur-tidur juga. Mau mandi yamahmud dingin banget, gajadi. Online sudah sana sini bosen. Bener yang seorang penulis blog bilang, mati gaya banget malam di Dieng itu haha. Mungkin karena ga ada TV kali ya di kamar yang saya pakai.

Berikutnya…

Iklan

2 pemikiran pada “Perjalanan Wonosobo ke Dieng

  1. Ping-balik: Next Stop : Ambarawa | Kubikel Yusuf

  2. Ping-balik: Dieng Negeri di tas Awan Part 1 | Kubikel Yusuf

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s