10 Jam Menyambangi Cirebon

Sebelumnya…

Cirebon. Sudah lama saya ingin sekedar mampir ke kota ini. Rasa rasanya ada panggilan jiwa untuk menyambangi kota ini #lebay. Pagi saya berangkat ke Cirebon naik kereta api Sawunggalih dari Pasar Senen. Sayangnya ya kereta api ini masang harga tertinggi untuk kereta jarak jauh, jadi mau turun di stasiun mana saja dikenai harga terjauh.

Fyi waktu saya dari stasiun Cirebon Kejaksaan sudah dikasih tahu sama tukang ojek kalau di Cirebon angkutan susah plus kalau becak mahal. Jadi saran saya sih minta kontak aja ke tukang ojek biar bisa jemput sewaktu waktu dibutuhkan.

Karena kebetulan itu hari Jumat jadi tujuan saya pertama saya adalah ke Keraton Kasepuhan Cirebon (karena ada masjidnya yang dikenal sebagai masjid Raya Cirebon atau dikenal juga sebagai masjid Cipta Rasa) sehingga saya dapat sekalian merasakan Jumatan disini. Hal ini karena kata google di masjid ini kalau Jumatan ada yang namanya Adzan Pitu atau Adzan yang dilakukan oleh tujuh orang sekaligus. Saya mengira adzan ini akan serempak pakai suara satu, dua dan tiga. Etapi ya begitu. Saya saja sih yang aneh mengharap yang enggak enggak.

P_20151002_131242
masjid Cipta Rasa. Pintu yang ini hanya dibuka ketika Jumatan atau hari besar Islam
P_20151002_131131
Gerbang Keraton Kasepuhan
P_20151002_125542
Petilasan untuk menyendiri eh apa ya istilah tepatnya?

Di sebelah masjid juga ada bentuk padasan (tempat air buat wudhu mirip gentong) yang ada sumber air yang dipercaya ini dan itu. Kalau saya sih ya sekedar lihat dan tahu saja.

Kelar Jumatan saya makan siang di sekitar situ, ada warung yang jual nasi Jamblang. Yaudah saya cobain sekalian untuk lihat lihat sikon. Ga yang gimana gimana juga sih nasinya karena hanya nasi dibungkus daun Jati. Lauknya sama saja kayak nasi campur dimana mana.

Nah kemudian baru saya masuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Sebenarnya pas saya masuk beli tiket ditawarin juga kalau mau pakai guide tapi saya tolak. Giliran saya baru masuk ke bagian depan sudah ada lagi bapak-bapak yang nanya mau lihat koleksi museumnya apa ga. Ya saya iyain karena dia bilang dia yang jaga. Eh tahunya di belakang dia ngintilin saya lihat lihat disitu sambil jelasin ono ini, ya jadinya secara ga langsung saya pakai guide juga. Saya saranin sih memang perlu guide karena area keratonnya cukup luas dan alur bangunannya muter-muter. Jadi kalau sendiri ga tahu juga apa yang mau dilihat. Selain itu juga lumayan buat minta tolong kalau mau foto J.

P_20151002_125221
kereta ini buat narik kayu glondongan
P_20151002_130049
depan Keraton tapi ga boleh masuk area situ. samalah kayak di Jogja ada area larangannya
P_20151002_130135
beberapa koleksi senjata berupa tombak

Yang saya lihat di situ sih ada koleksi kereta kayu, kereta buat narik kayu, koleksi senjata,dan petilasan. Mungkin setengah jam juga sudah cukup untuk mengunjungi area ini.

Berbekal info di internet dan nanya orang, saya memutuskan melanjutkan perjalananan ke Keraton Kanoman Cirebon. Oiya kalau Kasepuhan itu dari kata sepuh artinya tua sedangkan Kanoman dari kata enom artinya muda. Kata guide saya di keraton Kasepuhan, raja di keraton Kasepuhan sebenarnya lebih muda secara usia daripada raja keraton Kanoman. Dinamakan Kasepuhan karena koleksi senjata yang dianggap sudah sepuh (baca berumur atau tua) diwariskan ke beliau.

Jarak antara dua Keraton ini lumayan jauh juga, apalagi saya memilih jalan kaki. Keraton Kanoman berada di belakang pasar Kanoman yang sangat ramai. Jadi tidak kelihatan kalau dari jalan raya. Bahkan saya sampai kebablasan jalan kakinya. Uniknya di Cirebon ini, becak is everywhere and ready to serve you tapi saya tetep kekeuh jalan kaki. Mahasiswa pak! Mau irit.

Begitu masuk ke area keraton saya agak bingung, kok ga ada pintu yang jualan tiket seperti di keraton Kasepuhan. Yaudah saya masuk aja ke area disitu, tapi ga ada apa apa juga. Hanya bangunan lawas yang seperti keraton pada umumnya tapi tidak ada tanda tanda kalau tempat ini dikelola secara profesional. Saya juga menunggu kalau saja ada orang yang menawarkan diri jadi guide tapi kok ga ada juga. Akhirnya saya memutuskan menyudahi keinginan saya melihat-lihat keraton ini.

Saya lihat di jam baru jam 2 yang artinya nanti saya bisa kelamaan nunggu kereta  malamnya. Kemudian saya memutuskan ke Gua Sunyaragi, tapi saya bingung juga kok ga ada angkot di sekitaran situ. Yang ada hanya becak dimana mana, banyaknya becak di Cirebon ini sudah mengalahkan Jogja kayaknya. Alhasil saya nanya orang lewat disekitaran depan Keraton Kanoman. Dia menyarankan saya jalan dulu ke jalan entah apa saya lupa, nah dari situ baru naik angkot arah ke Gua Sunyaragi. Dari area keraton ke jalan yang dimaksud bapak yang saya tanya itu kira-kira 500an meter.

Sebenarnya jarak segitu termasuk dekat buat jalan kaki hanya masalahnya cuaca di Cirebon panas banget waktu siang hari. Saya cek di hape suhu sudah 34 derajat celcius. Saya sudah kayak mujair kena panas matahari. Engap rasanya siang itu. Jadilah saya mampir ke mini market beli minuman dingin dulu. Baru setelah itu saya naik angkot ke arah Gua Sunyaragi.

Sopir angkot ngasih tahu bahwa saya mesti turun di sebuah perempatan kemudian lanjut jalan kaki lagi ke arah gua nya. Yaudah ga masalah kalau hanya jalan kaki mah. Weladalah begitu saya jalan ternyata jarak perempatan ke gua Sunyaragi lebih dari 1 km, mana siang itu panas terik matahari sangat menyengat. Godaan tukang becak yang melambai lambai menawarkan bantuan yang tidak gratis saya tolak.

pintu masuk ke gua Sunyaragi
pintu masuk ke gua Sunyaragi

Waktu saya masuk ke area gua tidak banyak pengunjung disini, paling hanya beberapa cabe cabean yang sedang foto foto pakai tongsis. Di Gua Sunyaragi pun saya ndak lama, paling hanya setengah jam. Selain saya nggak ngerti tempat apa ini (sok-sokan nolak guide) tempat ini panas banget. Tahu sendiri kan namanya batuan (Gua Sunyaragi terbuat kayak dari batu-batu gitu) kena sinar matahari panas dari pagi sampai siang. Alhasil jadi kayak sauna alam.

tampak depan
tampak depan
tampak samping kanan
tampak samping kanan
tampak depan jauh
tampak depan jauh

Pukul 16.00 saya memutuskan kembali ke stasiun. Dari depan gerbang gua Sunyaragi naik angkot (tapi lama banget nunggunya) turun di depan sebuah masjid besar yang saya lupa namanya. Tidak afdol rasanya kalau ada masjid ga sekalian mampir solat. Yang asik di masjid ini disediain minuman super dingin gratis sepuasnya. Jarak masjid ke stasiun mungkin sekitar 700 meter bisa jalan kaki 10 menit atau bisa juga milih becak. Pukul 19.00 perjalanan berlanjut ke Semarang dengan kereta Gumarang.

Berikutnya…

Iklan

3 pemikiran pada “10 Jam Menyambangi Cirebon

  1. Ping-balik: Trip Oktober : Cirebon – Semarang – Ambarawa –Dieng | Kubikel Yusuf

  2. Ping-balik: Ngapain Aja di Semarang Dua Hari Part 1 | Kubikel Yusuf

  3. Ping-balik: Nasi Jamblang Mang Dul Cirebon – Kubikel Yusuf

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s