Mengunjungi Kota Pusat Batik : Pekalongan

Ngomong ngomong tentang batik saya sebenarnya sedang agak gimana gitu. Secara batik saya itu ada sekitar delapan sampai sepuluh yang biasa saya pakai kalau kerja. Nyombong ceritanya pemirsa. Nah karena kebetulan dalam dua setengah tahun ke depan saya lagi tugas belajar jadi batik saya tidak bisa dipakai karena peraturan yang tidak membolehkan saya (kami mahasiswa) menggunakan baju bermotif. Padahal batik adalah baju favorit saya kalau sedang kerja karena tidak ribet dipakai. Tidak perlu untuk memasukkan ke celana juga.

Ketahuan ya malasnya saya ini. Tapi kayaknya bukan malas sih ya, namanya juga selera.

Nah katanya si yang punya peraturan kemarin “ kalau memang batiknya pada ga kepakai disumbangin aja daripada nganggur”.

Bener sih tapi itu kan dibeli pakai duit sir. Yakali pakai daun.*disambit pakai jurnal*

batik

Salah satu sentra produksi batik di tanah Jawa yang sudah terkenal adalah Pekalongan. Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sempat main kesana. Kebetulan ada teman di kantor dulu yang sedang mengadakan resepsi di daerah Batang berbatasan dengan Pekalongan.

Pertama saya mau cerita tentang Pekalongan dulu.

Pertama saya menginjak bumi Pekalongan waktu keluar dari stasiun yang terlintas di benak saya adalah “ini gimana orang ga cepat kaya kalau daerah sepi jadi bisa hidup hemat”. Sumpah itu tempat sepi banget. Entah mungkin karena masih pagi atau memang demikian adanya.

Tempat yang dicari pertama tentu sarapan. Lapar yang mendera ditambah pagi yang cukup dingin membuat kami bergegas mencari apa saja yang bisa dimakan disana.

Di suatu jalan di dekat sentra batik itu berjejer pedagang sate.

Iya sate. Buat sarapan. Aneh bukan?

Entahlah rasanya ini lebih aneh daripada saat di Makassar yang makannnya daging-dagingan semua. La ini sate buat sarapan gimana makan siangnya atau makan malamnya.

Karena ga selera makan sate kami mencari yang lain yaitu Sego Megono. Saya yang dari awal penasaran seperti apa Sego Megono begitu lihat aslinya langsung hilang rasa penasarannya. Megono itu tak lain semacam nangka yang kayaknya dicampur kelapa kering gitu. Masih mendingan gudeg pokoknya.

Sarapan sudah, tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah alun-alun dan masjid raya Pekalongan. Niatnya istirahat dan sekalian bebersih badan. Setelah itu kami naik becak menuju jalan raya pantura. Langsung menuju TKP kondangan.

Selesai kondangan kami sempatkan main sebentar ke pantai Pasir Kencana. Namanya sih bawa bawa pasir tapi disitu tidak ada pasir sama sekali, yang ada dermaga semacam pantai Losari. Bedanya di pinggir dermaga ini banyak sekali pohon sehingga sangat nyaman untuk sekedar bersantai sambil minum air kelapa muda.

Karena perjalanan kali ini cuma sehari kami sempatkan untuk membeli oleh-oleh di pasar Banjarsari (kalau ga salah namanya). Disini batik-batiknya sangat murah dengan berbagai pilihan warna dan corak.

Sebenarnya ada beberapa tempat kuliner yang ingin saya coba seperti garang asem di dekat alun-alun dan sejenis soto khas Pekalongan tetapi karena keterbatasan waktu kami tidak sempat. Mungkin lain kesempatan.

Nuwun.

Iklan

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s