Wonderfull Tana Toraja

boiben dari mana ini?

 Pernah dengar Tana Toraja? Yap suatu tempat di daerah Sulawesi Selatan yang sangat terkenal dengan adat kebiasaannya dalam hal penguburan jenazah. Adat yang itu dikenal sebagai Rambu Solo. Eits tapi sebelum cerita lebih jauh tentang Tana Toraja ada baiknya saya ceritakan bagaimana ceritanya saya bisa sampai disana.

 ***

Sabtu 3 November 2012 salah satu teman saya di kantor menikah. Dan “hebatnya” kalau boleh saya katakan acara pernikahan tersebut diadakan di daerah Enrekang (kalau belum tahu silahkan buka peta,kira-kira letaknya pas di selangkangan peta Sulawesi).

Well demi kemaslahatan umat di penjuru kantor dan kebetulan saya juga belum pernah kesana, berangkatlah rombongan kantor dengan mencarter bus Kharisma.

Sekalian ya sebagai informasi aja, sewa bus untuk dua hari dengan kondisi bus yang eksekutif lengkap dengan bantal, selimut dan sandaran kaki serta space yang cukup luas ini dibanderol dengan harga sekitar 4 juta.

Janji pun dibuat! Jam 5 berangkat dari kantor. Tapi ya namanya manusia abad ke 21 janji sekedar janji, berangkatnya jadi jam 8 gegara si busnya bisanya datang ke kantor jam 7 pagi. ni ceritanya sama persis kan dengan saat nyewa mobil mau ke Sidrap dulu. (baca Sebuah Perjalanan Edisi Sidrap).

Perjalanan terasa lancar karena kondisi bus yang cukup bagus dan saya tertidur tapi itu hanya sampai di Pare-pare. Pernah lewat alas roban dekat Semarang?

Atau setidaknya dengarlah?

Ga juga ya?

Okelah jadi jalanan menuju Enrekang ini “diberkahi” dengan kontur jalan yang berliku-liku seperti cinta (e busettt nyampe ke cinta lagi). Nah hubungannya dengan alas roban? Mereka kakak beradik sepertinya. Karakternya pun sama, iya membuat perut terasa dikocok-kocok (perut lo ya perut).

Sekitar pukul 13.00 kami tiba di Enrekang dan sebelum ke tempat pernikahan itu kami singgah ke sebuah masjid dekat situ tapi ndilalah toiletnya baunya alaihun gambreng plus masih agak pusing karena jalanan berkelok akhirnya pertahanan perut saya jebol juga. Bukan cuma saya kok, ada empat orang yang begitu juga (nyari teman).

 
bus yang kami sewa
Pesta tidak dibahas dimari yak…
 
Nah karena pestanya pukul 16.00 sudah selesai kami pun menyempatkan untuk  pergi ke Gunung Nona. Awalnya saya pikir dinamakan demikian karena ya mungkin daerah penghasil susu, kan ada tuh susu yang merk nya pakai nona-nonaan gitu kan.
Pas nyampai disana sih biasanya saja karena sedang berkabut plus hujan. Nah kondisi seperti ini cocoknya pesan tehh hangat dan indomie rebus. Nikmat sekali rasanya!
Semenit, dua menit, ….tiga puluh menit masih sama. Tapi Tuhan berkehendak lain, tersingkaplah itu kabut dengan sinar matahari yang cerah dan yang kami saksikan adalah…
gunung punya nona, nona punya gunung? ini apanya nona?
 Jadi itulah kenapa dinamakan gunung Nona. Ga ngerti juga! Ke laut sono gih!

 ***

Hari berikutnya…

Pagi yang tenang dan damai di Enrekang itu pun harus kami tinggalkan segera karena mesti buru buru untuk ke Tana Toraja. Ah lagi lagi manusia abad 21, suka sekali makan karet kali. Sudah ditunggu lama malah malah…ah sudahlah. Kemudian kami sarapan pagi di daerah pegunungan Enrekang yang katanya rumah makan tapi menunya cuma ayam goreng dan mie siram (sebutan lain untuk pop mie). Heran sih kok pada malas amat yang punya warung #eh

Makanya dihitung per meja Rp.100 ribu baik mau dua tiga atau empat orang sama saja. Ayamnya enak tapi yang lain amit-amit rasanya. Saya ga tahu kenapa tapi rasanya pedagang di sekitar sini pada malas buat sayur apa ya?

Perjalanan berlanjut ke Tana Toraja. Sejam dua jam tiga jam saya tidut tahu-tahu saya sudah di Makale, ibu kota Tana Toraja. Di sepanjang jalan ini yang ada rumah rumah dengan gaya Tongkanan yaitu rumah adat daerah sini. Kemudian kami berhenti di sebuah pertigaan yang ada lambang kerbau putih atau tedong.

Kami mesti nyewa mobil mobil kecil untuk mengantar kami tempat tempat yamg mau dikunjungi karena bus yang kami tumpangi terlalu besar ukurannnya. Biaya sewanya 300 ribu per mobil untuk sekitar 7 sampai dengan 8 orang. Ada 3 spot yang kami kunjungi yaitu

Kete Kesu. 

Agak geli juga sih ya dengar namanya tapi ya emang itu namanya. Tempat ini semacam kampung wisata yang penuh dengan Tongkonan baik yang sudah berusai lama lengkap dengan ratusan tanduk kerbau tanda sosial itu maupun yang baru untuk sekedar acara pemakaman.

Semakin ke belakang kampung ini akan naik dan kita akan menemukan pemakaman yang jenazahnya diletakan dalam peti di bukit bukit. Nah untuk jenazah yang berjatuhan dibiarkan karena jika ingin mengembalikannnya perlu acara adat lagi.

makam di tebing


Londa.
Hampir sama dengan yang pertama cuma disini tidak ada Tongkonan yang ada adalah pemakaman baik di bukit bukit maupun di gua gua.
patung mirip si mayat yang dikubur
Bersama rekan sekantor
Pemandian Air Panas Makula
 Ini saya mau cerita ini tolong dibaca baik baik. Pemandian air panas kan biasanya ada sungai yang airnya panas gitu kan? Kan? Tapi yang di Makula ini cuma ada kolam renang dengan ada satu pancuran air panas. Iya gitu doang ga usah ngarep lebih. Tapi lumayan sih untuk menghilangkan pegal-pegal di badan selama dalam perjalanan ini.
Segernya

Wisata kali ini pun berakhir. Pukul 18.00 kami naik bus lagi untuk kembali ke Makassar. Benar benar suatu wisata yang saya bilang “ Wonderfull”.

Tapi cerita belum berakhir, jam 21.00 kami dibangunkan untuk makan malam. Dan ajaib kami merasa de javu seperti pernah kesini. Dengan mata yang masih berkunang-kunang karena ngantuk saya dkk masuk ke tempat makan dan

berapa orang mas? 3 orang ?4? ayam goreng apa mie siram?”

Kami pingsan berjamaah.

Iklan

2 pemikiran pada “Wonderfull Tana Toraja

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s