Duh Gusti Paringono Sabar

Spada! buena noche?

Kamu merasa orang yang sabar? Kalau iya saya minta pendapatnya mengenai kondisi saya ini. Tak terasa sudah agak lama saya di kota daeng ini. Akhir akhir ini saya merasa agak jengkel dengan pengendara motor di sini. Pasalnya kebanyakan dari mereka suka  agak ugal ugalan saat berkendaraa. Berikut ini beberapa hal yang sering saya temui di jalan:

Kebanyakan dari mereka tidak sabaran menunggu lampu merah berganti hijau.

Dan jika kamu berada di baris agak depan siap siap saja mendengar klakson yang tak henti henti berbunyi sesaat setelah lampu menjadi hijau. Bukan itu saja terkadang lampu masih merah pun akan diterjang juga. Soal ini sopir di kantor saya pernah berujar “ wah mas kalau disini mesti hati hati kalau berhenti di lampu merah, bisa bisa ditabrak dari belakang”. What the h*ll ! gimana ceritanya coba.

Menyeberang sembarangan

Ingakah kamu bagaimana diajarin waktu SD cara menyeberang jalan? Iya, tengok kanan kiri, kalau kira kira agak kosong dan aman baru menyeberang. Tapi hal itu kayaknya tak berlaku di sini. Orang menyeberang jarang sekali yang mau lihat situasi terlebih dahulu sehingga kadang mengagetkan pemotor. Pemotor juga sama saat mau memotong jalan mereka langsung saja nylonong tanpa basi basi lihat jalan kanan kiri.

Suka meludah sembarangan

Hal ini sering saya temui saat berkendara. Yang agak menjengkelkan adalah mereka berada di tengah jalan raya dan seenak sendiri meludah.

Sopir angkot aka pete pete sering berhenti di tengah jalan.

Kalau hal ini mungkin sama dengan di daerah lain karena berebut penumpang.

Parkir di sebelah kanan jalan di jalur searah.

Hal ini sering saya di lihat di daerah Hestasning. Entahlah apa penyebab si empunya mobil melakukan hal ini. Mungkin ya karena keterbatasan lahan parkir di kawasan situ.

Arak arakan mobil jenazah yang mirip kampanye. 

Bukan bermaksud apa apa cuma hal ini kadang menjadi pertanyaan mau mengubur jenazah kok arak arakannya bawa motor yang banyak kayak kampanye pemilu gitu. Tapi ya positif thingking aja mungkin hal ini dikarenakan letak pemakaman yang agak jauh sehingga perlu trek kayak ambulans biar cepat.

Berjalan melawan arus!

Sebenarnya sih ga masalah kalau melawan arusnya di pinggir dan ngliat sikon arusnya. Tapi yang ada biasanya sudah melawan arus masih juga ga mau mengalah jalannya. Maksud saya bukannya berjalan di pinggir tapi agak ke tengah.

Macet yang kadang ga worth it.

Terkadang saya menemukan kemacetan yang disebabkan pengendara yang sama sama ga mau mengalah di dua lajur yang berbeda sehingga jalur tersebut sama sama terhenti lama.  Jadi misal jalur A dan B berlawanan. Macetnya karena pengendara di jalur A merebut jalur B dan sebaliknya. A merebut jalur B dan B merebut jalur A. Hadap-hadapan. Edan pora kui.

Merebutnya ga kira-kira lagi, selebar jalur lawan diambil semua. Kalau saya jadi Polantas juga rasanya nyerah sama keadaan begini. Biasanya hal kayak ini saya temui di daerah depan imigrasi. Dalam istilah saya saya namakan alasan yang ga worth it.

Emangnya yang worth it kekmana ya? Hehe. Titik titik kemacetan yang paling sering saya temui adalah di perempatan pasar Daya,depan imigrasi,depan M’Tos, perempatan adipura dan jalan Pettarani

Begitulah lama lama saya jadi keseringan mengumpat saat di jalan saking jengkelnya. Ah rupanya saya pun kena efek beginian. Oiya di Makassar itu sangat minim petunjuk jalan seperti di Jawa sehingga agak menyulitkan saat kita bepergian.

Masih bisakah bersabar dengan hal seperti itu? Oke baiklah mari kita elus dada saja *pasang dada sendiri* *dijumroh*

Iklan

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s