Sebuah Perjalanan edisi Sidrap

Salah satu cara untuk menghilangkan penat adalah dengan berjalan jalan. Itu yang sekarang sedang saya sukai. Rasanya jika weekend cuma duduk diam di kosan ada yang kurang.

Pada kondisi saya bukan penat karena kerjaan tetapi lebih ke penyesuaian diri terhadap situasi dan kondisi tempat baru (baru pindah kantor) yang tentunya sangat berbeda dengan lingkungan saya sebelumnya.

Minggu ini giliran Sidrap yang menjadi tempat saya dan kawan-kawan singgahi. Oh iya selama ini saya tahunya Sidrap itu adalah nama kota bukan akronim, setelah kesana baru tahu kalau Sidrap itu akronim dari Sindereng dan Rappang.

Perjalanan kami rencanakan dimulai jam lima pagi tetapi mobil carterannya datang terlambat sampai jam tujuh pagi. Perjalanan sekitar 3,5 jam via darat ini terasa sangat lancar karena jalanan yang lurus dan relatif sepi. Sepanjang perjalanan kami dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat eksotis terutama di sepanjang pegunungan Maros sampai pesisir pantai Pare-Pare.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah rumah teman yang sedang ada acara adat menjelang pernikahan. Sayangnya kami tidak melihat ritualnya secara keseluruhan karena memang acaranya tertutup, hanya keluarga besar yang berkumpul untuk membicarakan tanggal pernikahan. Alhasil dari acara ini saya tahu baju tradisional orang Bugis yang unik. Selain itu juga ada makanan tradisional yang belum pernah saya coba.

pisang sanggara belanda
 
Suwellah
Sikaporo

Setelah acara selesai kami melanjutkan perjalananan ke pemandian air panas Lejja di daerah Sopeng. Jaraknya sekitar 15 km dari Sidrap. Untuk sampai sumber air panas tersebut kami mesti menyusuri jalanan  yang berliku sehingga kepala pusing rasanya. Tetapi rasa capek itu terbayar dengan mandi air panas yang menyegarkan badan.

Mandi air panas yang mengandung sulfur memang baik untuk badan karena dapat menghilangkan penyakit kulit. Tetapi disarankan jangan lama lama karena gas yang dihasilkan dari sulfur bisa berbahaya untuk untuk pernafasan. Jam lima sore kami kembali dari Sopeng.

 
Sauna alami
Balai balai

Saya terkesima dengan masjid masjid di daerah Sidrap ini. Selain karena dekorasinya yang unik, hampir setiap 100 meter ada masjid. Suasana religious masih sangat kental disana. Kami sempat mampir ke rumah teman yang asli bugis.
Unik rasanya kalau dulu hanya melihat di TMII sekarang bisa benar-benar merasakan suasana rumah tradisional orang Bugis. Hangat, itu kata yang terlintas di kepala saya melihat keluarga teman saya ini. Apalagi sore itu ditutup dengan makan malam lesehan, nikmat sekali rasanya. Setelah itu kami pun mesti kembali ke Makassar dengan membawa pengalaman baru yang akan selalu terkenang.

 

 

rumah tradisional Bugis
Dari perjalanan ada beberapa catatan yang penting untuk diingat, diantaranya:
  1. Jika mau nyarter mobil pastikan tidak terjadi miskomunikasi seperti yang terjadi pada kami. Kami tahunya sewa mobil 24 jam berarti selama 24 jam kami bebas untuk menggunakan mobil sewaan tersebut asalkan mobil tersebut kembali dalam hitungan 24 jam. Sementara dari pihak pemilik menganggap kami menyewa mobil untuk perjalanan dari Makassar ke Sidrap saja dengan waktu maksimal 24 jam. Sehingga akhirnya kami mesti menambah biaya carteran untuk menambah tujuan yang ingin didatangi.
  2. Jalanan yang lumayan sepi membuat pengemudi sering ngebut padahal sebagian jalanan sedang dalam perbaikan. Selain itu penerangan jalan hampir tidak ada. Sangat disarankan untuk berhati-hati selama dalam perjalanan.
  3. Sinar matahari sangat terik di sekitar Pare-Pare dan Sidrap, siap-siap kepanasan hehe.
  4. Fasilitas kamar ganti di pemandian air panas Lejja sangat tidak layak karena bau dan tidak tersedia air. Sangat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk pemakaian tempat ganti walau cuma dua ribu rupiah.
Iklan

2 pemikiran pada “Sebuah Perjalanan edisi Sidrap

  1. Ping-balik: Wonderfull Tana Toraja | ayopergi

  2. Ping-balik: Wonderfull Tana Toraja – Kubikel Yusuf

Pengunjung yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s